Celebrating 70 years

Eddy Setiawan, Pendengar dari Jakarta

This element requires Adobe Flash Player 9.0.115 (or higher). We've detected that you don't have the player or your player is out of date. You can download & update your player at www.adobe.com.

Waktu 66 sih karena waktu itu berita di dalam negeri kan kurang ya. Saya tahu [mengenai Radio Australia] dari sepupu. Sepupu itu kan guru. Dia itu setiap setengah dua siang tune-in ke Radio Australia. Udah, saya coba denger di rumah, ternyata bagus siarannya, akhirnya terus sempai sekarang. Sikap dari penyiarnya sendiri, lebih memperhatikan pendengar, itu yang bikin kita betah untuk mendengarkannya gitu, di samping juga waktu itu Radio Australia boleh dibilang paling royal dalam membagi2kan barang cetakan dibanding dengan yang lain. Kalau dibandingkan dengan berita dari Indonesia, mungkin RA dikatakan kalah yah, karena penduduk di Indonesia lebih cepat memonitor siaran dari dalam negeri. Tapi kalau untuk monitor siaran dari Australia mungkin belum ada siaran lokal yang bisa nyaingin Radio Australia. Ini bisa saya buktikan pada saat Mang Hidayat sendiri berinteraktif dengan penyiar di Indonesia. Nah waktu itu kan dibuka kesempatan utuk bertanya. Nah disitulah iita bisa mendengarkan bagaimana antusias mereka itu bertanya tentang Radio Australia. Ini kan membuktikan bahwa sebetulnya pendengar di Indonesia itu lapar banget, haus banget dengan berita dari Australia

About the author

Eddy Setiawan adalah redaktur ‘Buletin Pendengar’ yang sudah mendengarkan RASI sejak tahun 1966.

Leave a Reply